Buta warna adalah kekurangan penglihatan atas warna. Mata tidak akan melihat warna seperti biasanya jika ada masalah dengan pigmen pada reseptor warna. Lantas bagaimana cara mengatasi buta warna.
Diketahui bahwa wanita jarang mengalami buta warna. Buta warna biasanya kebanyakan diidap oleh kaum pria. Mengapa? Pasalnya wanita memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menghargai warna dengan tone lembut karena mereka memiliki gen penglihatan warna lebih banyak dari pria, seperti dijelaskan Andrew Lotery, profesor ophthalmology di Univesity of Southampton.
Gen ini membantu kita mengenali warna yang berbeda dan mengenali gradasi warna, tone, dan jenis warna.
Gen-gen yang terletak di kromosom X merupakan kode genetik yang menentukan jenis kelamin kita. Pria memiliki satu kromosom X, wanita memiliki dua. Itulah sebabnya wanita memiliki lebih banyak warna visi gen.
Sedikit gen juga artinya pria memiliki kesempatan lebih tinggi menderita buta warna. Jika serang wanita memiliki setiap gen yang hilang atau rusak, dia memiliki cadangan pada kromosom X kedua, sementara pria tidak. Sekira delapan dari 100 pria dan satu dari 100 wanita dipengaruhi risiko buta warna.
Siapa yang tulangnya paling kuat?
Kerangka tubuh pria memang lebih besar, tetapi panggul wanita yang terlihat lebih kecil sesungguhnnya lebih besar karena bukaan antara tulang panggul memungkinkan bayi keluar.
"Kelemahan ini membuat wanita lebih rentang terhadap prolapse- di mana rahim turun," kata Anton Emmanuel, konsultan pencernaan di University College Hospital, London.
Hal ini terjadi ketika otot-otot dasar panggul melemah dan memungkinkan organ termasuk kandung kemih, rahim, usus kecil, dan rektrum keluar dari posisi sebenarnya dan menyebabkan rasa sakit serta inkontinensia.
Korteks atau lapisan luar dari tulang pria umumnya lebih tebal daripada wanita, sehingga pria kurang rentang terhadap patah tulang jika mereka jatuh, ujar Paul Allen, konsultan ortopedi dan dokter bedah lutut di Chelsfield Park Hospital di Orpinton, Kent.
Hal ini diperburuk karena tulang mereka menjadi lebih tipis setelah menopause karena mereka kehilangan efek perlindungan estrogen.
(Renny Sundayani)