Menyusuri Potret Sejarah Kota Palembang

Santi Andriani, Jurnalis
Rabu 11 Mei 2016 06:56 WIB
Menyusuri potret sejarah Palembang (Foto: Wikipedia)
Share :

MENYUSURI Sungai Musi tak sekadar merasakan sarana transportasi utama masyarakat Kota Palembang.

Lebih dari itu, setiap tepian sungai terbesar di Provinsi Sumatera Selatan ini menyuguhkan potret kehidupan masyarakatnya.

Mulai dari kehidupan pada masa Kesultanan Palembang, termasuk pada masa kependudukan Hindia Belanda, hingga kehidupan modern setelahnya.

Sejak zaman Kerajaan Sriwijawa hingga sekarang, Sungai sepanjang 750 km ini tetap menjadi sarana transportasi umum.

Setelah sehari sebelumnya menggelar diskusi, maka pada hari terakhir, Selasa (10/5/2016), giliran para peserta Forum Discussion Group (FDG) Kunjungan Lapangan Destinasi MICE Palembang (meeting, incentive, conference dan exhibition) diajak mengunjungi sejumlah tempat wisata di Kota Pempek ini.

Ada tiga tempat yang dikunjungi yaitu Pulau Kemaro, Museum Mahmud Badaruddin II dan Jakabaring Sport Center.

Sekira 50 peserta yang berasal dari kantor dinas pariwisata Kota Palembang, persatuan pramuwisata, himpunan hotel dan restoran, destination management organization (DMO), travel blogger dan media diberangkatkan menuju destinasi pertama, yakni Pulau Kemaro.

Berangkat dari dermaga yang berada di depan Benteng Kuto Besak (BKB), rombongan menumpang kapal motor Mayang Sari berkapasitas hingga 50-an penumpang.

Waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB, matahari belum begitu terik dan peserta nampak begitu bersemangat.

Berada di atas kapal, suasana tidak hening apalagi serius. Organ tunggal dengan seorang penyanyi perempuannya mulai menyanyikan lagu. Belum lagi teman-teman peserta dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) untuk Palembang yang sangat aktraktif menghibur. Sesuai tugasnya, mereka guide yang sangat menyenangkan.

Kapal motor pun mulai dihidupkan. Tidak langsung mengarah ke tujuan, kapal sengaja diarahkan ke jalur yang berbeda.

Pengenalan sejarah Palembang dimulai. Kemas Abdul Latief, Ketua HPI untuk Palembang mengambil alih mike si biduan. Benteng Kuto Besak adalah pembuka pelajaran sejarah pagi ini.

"Benteng Kuto Besak dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I yang kemudian diteruskan pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Bahauddin," katanya sambil menunjuk pada bangunan berwarna putih tidak jauh dari tepian Sungai Musi. Bangunan ini menghadap langsung ke Sungai Musi.

Dibangun pada 1780, bangunan ini kata Latief memiliki panjang dari hilir ke hulu 300 meter dengan ketinggian 10 meter. BKB adalah juga bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang.

"Dibangun dengan batu bata dan sebagai perekatnya adalah batu kapur dan juga putih telur. Coba ibu-ibu bayangkan berapa butir telur yang dibutuhkan untuk membangun benteng yang besar ini," ujarnya sambil bercanda yang disambut gelak tawa rombongan.

Waktu yang dipergunakan untuk membangun Benteng Kuto Besak ini adalah 17 tahun, hingga akhirnya diresmikan pada 21 Februari 1979.

Beralih ke tepian sungai sebelah kiri dari lajunya kapal motor (dari arah Jembatan Ampera) alias bagian ulu, Latief menunjuk pada rumah-rumah terapung milik warga.

Di depan rumah mereka terdapat kapal-kapal kecil yang ditambatkan. Kondisinya agak kumuh, satu dua anak kecil terlihat sedang berenang.

"Ini yang dinamakan kampung china, china town. Warga Tionghoa banyak yang tinggal di sini dengan rumah rakit. Sekarang pun masih ada beberapa," ujar Latief.

Peradaban Tionghoa memang mendarat di Sumatera Selatan, salah satunya di Kota Palembang. Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya menjadi pintu masuk keturunan Tionghoa beserta budayanya. Sekira abad ke-14, Perwira Tiongkok dari Dinasti Ming yaitu Perwira Tjoa.

Saat Belanda datang menjajah, ia menunjuk perwira sebagai Kapitan atau Kapten yang ditugasi memimpin kawasan itu. Jadilah nama kampung itu juga disebut Kampung Kapitan.

Rumah-rumah rakit saat itu adalah perkawinan budaya China dengan Palembang. Bagian atap adalah budaya rumah khas Palembang, rumah limas, sementara bagian dalamnya kental dengan gaya China.

Soal makanan khas pempek, diceritakan Latief adalah kaum Tionghoa yang pertama kali mempopulerkannya.

"Jadi pempek itu dulunya adalah industri homemade warga Tionghoa di daerah Ulu ini. Nama aslinya adalah ampek ampek, aslinya menggunakan ikan gabus yang merupakan ikan dari Sungai Musi. Jadi pempek yang asli itu ya dari daerah Ulu," katanya.

Lagi-lagi pria asli Palembang itu membuat guyonan. "Jadi maaf, soal pempek ini, kalau Presiden Habibie dulu punya hak paten membuat pesawat terbang setelah masa kemerdekaan, saat zaman penjajahan seorang gadis dari Ulu bernama Habibah bahkan sudah punya paten bikin kapal selam," kelakarnya lagi mengocok perut.

Kapal pun berbelok menuju arah tujuan utama kunjungan lapangan Destinasi MICE, tapi sejarah Palembang belum berakhir di sini.

Masih dari tepian Sungai Musi, dapat dilihat beberapa bangunan yang sangat penting bagi aktivitas warga Palembang dulu hingga sekarang.

Seperti pasar tradisional lama yaitu Pasar Sekanak. Meski kini sudah ada pasar yang baru yaitu Pasar 16 Ilir, Pasar Sekanak masih tetap beroperasional meski tidak padat lagi.

Tidak hanya pasar tradisional, membonceng ketenaran Sungai Musi dan Jembatan Ampera, sejumlah restoran pun dibangun di tepian sungai Musi. Seperti restoran Kampung Kapitan, Riverside dan foodcourt tak jauh dari BKB. Mereka pun menyuguhkan perahu mengapung sebagai pilihan untuk bersantap.

Melintasi Sungai Musi sudah pasti akan dipampangkan Jembatan Ampera yang merupakan ikon Kota Palembang.

Jembatan Ampera menghubungan daerah seberang Ulu dan seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Jembatan memiliki panjang 1.117 meter, lebar 22 meter dan tinggi 11,5 meter dari permukaan laut. Sementara tinggi menara yaitu 63 meter dari permukaan tanah.

Ide membangun jembatan sebenarnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang pada 1906, namun ide ini tidak terealisasi bahkan setelah berakhirnya kepemimpinan Walikota Palembang, Le Cocq de Ville.

Akhirnya jembatan ini baru terealiasi pada masa kemerdekaan dibawah pimpinan Presiden Soekarno. Biaya pembangunan berasal dari rampasan perang Jepang.

Bahkan bangunan dikerjakan oleh perusahaan konstruksi asal Negeri Sakura tersebut. Pada masa itu Jembatan Ampera yang merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat adalah jembatan yang terbesar di Asia Tenggara.

Tidak jauh dari Jembatan Ampera, kemudian ada Pasar 16 Ilir. Pasar 16 Ilir diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan abad 19. Saat itu Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo memindahkan keraton ke Kuto Kecik karena ada pembangunan Mesjid Agung pada 1821.

Pemerintah Belanda saat itu kemudian membangun pertokoan dan perkantorn di sepanjang Sungai Tengkuruk yang bermuara di di Sungai Musi. Pasar 16 Ilir terus dilakukan perluasan untuk menampung banyak pedagang. Aneka dagangan, mulai dari tekstil, emas, keperluan rumah tangga hingga baju bekas impor.

Melanjutkan perjalanan, akan menemukan kawasan semacam Tanjung Priok di Jakarta, yaitu tempat untuk bongkar muat barang dari luar negeri.

Kapal-kapal besar dan kontainer-kontainer tampak bersandar. Juga ada kapal-besar pengangkut batu bara yang tengah parkir.

Jika pada bagian ulu sebelum Jembatan Ampera Anda menemukan kampung China, maka sesudah jembatan bakal menemukan Kampung Arab. Ya, warga keturunan Arab juga banyak merantau ke Palembang akibat perdagangan.

Sama seperti Kampung China, disini banyak rumah rakit, puskemas terapung dan juga rumah ibadah umat Muslim yang berdampingan dengan rumah ibadah umat Tionghoa.

Dari Sungai Musi, rombongan ditunjukkan oleh Latief sebuah pabrik es batu pertama di Palembang, yakni PT Alwi Assegaf. Kini yang menjalankan usaha itu adalah generasi keenamnya dan sudah menggunakan teknik modern dalam membuatnya.

Soal es batu, lagi-lagi Latief punya guyonan. "Jadi dulu ada kisah seorang warga Ilir membeli es batu dari pabrik ini. Sampai di rumah si warga marah-marah dan mengadu ke temannya. Ia sebut si penjual es yang warga Arab menipu. 'Tidak benar itu orang Arab jual es, sampai di rumah es ku sudah habis mencair. 'Memang di mana kau taruh es itu? Aku ikat es di belakang perahuku lah. Bukan salah penjualnya, namanya es kena air ya habis lah mencair," kata Latief.

Kembali di bagian sebelah Ilir, setelah dermaga bongkar muat, maka rombongan diperlihatkan kemegahan pabrik pupuk terbesar di Indonesia, Pusri, Pupuk Sriwijaya.

Okezone takjub melihatnya. Kemegahan dan kemodernan terlihat pada bangunan-bangunan yang kokoh dan luas.

Pelajaran saat duduk di bangku sekolah dasar itu, kini terpampang jelas di depan mata. Kapal-kapal besar pengangkut pupuk pun menjadi pemandangan langka di sepanjang sungai Musi.

Tak terasa kemegahan dan kemodernan pabrik Pusri yang akhirnya kembali mengantarkan pada sejarah dan legenda cinta dua anak manusia ratusan bahkan ribuan tahun ke belakang. Waktu menunjukkan pukul 11.10 WIB saat perjalanan singgah di dermaga Pulau Kemaro.

Pulau di Sungai Musi yang alkisah muncul dari kisah cinta tragis antara gadis Palembang, Siti Fatimah dengan saudagar muda keturunan Tionghoa, Tan Bun An.

Sinar matahari terik menyengat kepala. Namun kerindangan pohon dan Pagoda di Pulau Kemaro ramah mengundang.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya