Ratusan kura-kura belawa di obyek wisata Belawa di Desa Belawa, Cirebon, Jawa Barat memperihatinkan. Ratusan kura-kura terancam punah.
Kura-kura belawa ini, bukan hanya sebagai obyek wisata saja melainkan juga sebagai salah satu peninggalan sejarah di Cirebon yang seharusnya terlindungi.
Ketua Kelompok Kuya Asih Mandiri, Eya Dedi Priatna menceritakan asal usul kura-kura belawa yang termasuk jenis hewan langka.
Ratusan tahun yang lalu disini ada sebuah pondok pesantren belawa yang ditempati oleh Syekh Datuk Putih, suatu hari Syekh Datuk kedatangan seorang pemuda yang bernama Jaka Salimah, namun kedatangan pemuda ini bermaksud untuk berobat, pasalnya hal yang tak lazim nampak di wajahnya, Jaka Salimah berwajah dua warna yakni sebagian hitam dan sebagian lagi putih.
Diperintahkanlah, Jaka Salimah untuk belajar agama islam yakni melaksanakan salat lima waktu dan mengaji, akan tetapi hari demi hari Jaka lewati dan penyakitnya pun tak kunjung sembuh hingga ia merasa geram dan putus asa.
"Dilemparlah kitab suci Al-Qur'and ke sebuah halaman dekat pondok pesantren itu," kata dia, baru-baru ini.
Selang beberapa waktu, ungkapnya, dari halaman itu muncul mata air dan seekor kura-kura, setelah itu Jaka mencoba bercermin di sebuah sumur yang ada disitu dan ia kaget karena wajahnya terlihat normal, sontak ia merasa gembira dengan perubahan pada wajahnya itu.
"Dari situlah kisah kura-kura belawa ada, tahun ke tahun kura-kura itu mengalami perkembangbiakan," ucapnya.
Akan tetapi, lanjutnya, di 2010 terjadi insiden kematian massal kura-kura belawa hanya tersisa 72 ekor kura-kura yang sudah berusia 60 tahun dengan berat 15 kilogram. Untuk yang berukuran kecil sendiri sekitar 300 ekor.
"Perbedaan kura- kura di laut dan kura-kura belawa ada pada tulang rusuk kura-kura belawa di tempurungnya" terangnya.
Sangat disayangkan, obyek wisata sekaligus situs sejarah ini, Eya mengatakan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, bahkan dengan kondisi boyek wisata yang memperihatinkan ini sering mengundang tindak kriminalitas dengan banyaknya kerawanan pencurian kura-kura belawa yang dipercaya memiliki banyak khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
"Untuk menghindari hal itu, kami harus berjaga 24 jam, selama ini untuk mengelolahnya kami hanya mengandalkan retribusi dari tiket masuk yang hanya dibandrol Rp2 ribu per tiket dan donatur" paparnya.
Ia mengaku obyek wisata ini lumayan dikunjungi jika hari libur wisatawan yang berkunjung mencapai 50-100 orang dan hari biasa mencapai 20 orang.
Selain kura-kura yang dikramatkan tempat lain juga seperti sumur disini dimanfaatkan warga yang ingin meminta sesuatu. "Kami berharap adanya perhatian agar obyek wisata ini bisa dikelolah dengan baik" tukasnya.