HILANGNYA tujuh warga negara asing (WNA) saat diving di Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau menghebohkan wisata bahari Indonesia. Peristiwa ini bukti bahwa kita tak bisa diving sesuka hati.
Tujuh WNA itu terdiri dari Daniele Buresta, Valeria Baffe, Alberto Mastrogiuseppe, dan Michela Caresani asal Italia, seorang warga Belgia bernama Vana Chris R Vanpuyvelde, serta dua orang WNA lagi yang belum diketahui identitasnya. Ketujuh WNA yang didampingi pemandu wisata bernama Oslan tersebut, menghilang sejak 15 Agustus 2015 saat diving di perairan sekitar Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Peristiwa ini mengajarkan, bila banyak yang perlu diperhatikan ketika diving. Salah satu penyelam Indonesia, Riyanni Djangakaru mengatakan, hal yang paling penting ketika diving adalah safety.
“Safety ini meliputi sertifikasi selam. Kalau belum mempunyai sertifikasi selam, kita bisa diving bersama dive master dan mengikuti semua instruksinya,” ujarnya saat berkunjung ke redaksi Okezone di Gedung HighEnd, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Menurut wanita yang juga pendiri komunitas Savesharks, seringkali seseorang tidak peduli dengan instruksi dive master, karena terlena euforia akan menyelam. Padahal, mendengarkan dan mengikuti semua instruksi dive master sangat penting untuk keselamatan.
“Jadi, meskipun senang-senang, perlu dipahami bahwa kita tidak akan pernah merasa senang dan nyaman bila safety-nya tak terpenuhi,” tuturnya.
Selanjutnya, wanita berusia 35 tahun tersebut menjelaskan, hal penting lain ketika diving adalah tidak memaksakan diri. Menurutnya, bila cuaca tidak memungkinkan untuk diving, kita sebaiknya jangan memaksakan diri.
“Jangan memaksakan diri, karena safety itu bukan hanya penggunaan alat. Jangan kekeuh kalau kapten kapal bilang cuaca sedang jelek, kita harus mengikuti instruksinya. Karena, biasanya yang celaka itu tidak mengikuti instruksi dive master dan kapten kapal,” tutupnya.