OKEZONE.COM, MAGELANG - Candi Borobudur di Magelang merupakan peninggalan sejarah umat Buddha.Tapi, kehadiran umat Buddha tak banyak.
Keberadaan candi itu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia karena menjadi salah satu dari sekian banyak mahakarya yang masuk dalam keajaiban dunia.
Mungkin, dimasa pembuatan candi itu mayoritas masyarakat sekitar banyak yang memeluk ajaran agama Buddha. Namun, seiring berjalannya waktu, umat Buddha yang tinggal dikawasan Magelang menyusut karena beragam alasan.
"Kalau mayoritas masyarakat sini beragama Islam. Ya ada juga orang beragama Buddha yang tinggal di Magelang," kata Asnawi, warga Mendut 2, Mungkid, Magelang pada Okezone.
Beberapa Wihara, kata dia, masih terpelihara dengan baik yang ada tak jauh dari Candi Borobudur maupun Mendut. Beberapa biksu masih tinggal berbaur dengan masyarakat setempat meski tinggal di wihara.
"Mereka tinggal di wihara, tapi tetap berbaur dengan masyarakat sekitar yang kebanyakan beragama Islam. Kita hidup kan harus saling hormat menghormati, meski jumlahnya tidak banyak, tapi mereka baik dengan warga," ujar bapak dua anak itu.
Setiap tahun dalam perayaan waisak, sebutnya, area kawasan Candi Mendut maupun Candi Borobudur selalu dipenuhi umat Buddha.
Mereka dari berbagai daerah hingga manca negara, seperti Thailand, Korea, Cina, Jepang, dan masih banyak lainnya.
"Kalau peringatan Waisak, kita kedatangan banyak tamu. Borobudur itu milik kita bersama, harus benar-benar dirawat dengan baik," pesannya.
Terlebih, puncak peringatan Waisak selalu diakhiri dengan pelepasan lampion ke angkasa. Pelepasan lampion itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin melihat kebersamaan antar umat.
"Lepas lampion kan tidak hanya umat buddha saja, tapi banyak juga yang non buddha ikut memeriahkannya," jelasnya.
Lepas lapion, kata dia, bisa menjadi adat dan tradisi saat puncak perayaan waisak. Dia menyebut saat masih muda, tidak ada pelepasan lampion saat puncak peringatan waisak. Pelepasan lampion itu baru ada sekira 10 tahun terakhir ini.
"Mungkin lampion bisa jadi budaya, budaya yang baik karena memberi manfaat bagi kemaslahatan umat. Imbasnya kan banyak yang ikut menyemarakan perayaan Waisak," ujar pria kelahiran 1965 itu.
(Johan Sompotan)