KASUS kesalahan pemberian obat anestesi seperti di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, diharapkan tidak terjadi lagi di dunia medis. Hal ini sangat disayangkan oleh banyak pihak, termasuk oleh dokter ahli anestesi Dr Arief Basuki, SpAn.
Ia menyebutkan kasus tersebut merupak an kejadian luar biasa (KLB) dalam dunia medis. Bahkan penghentian penggunaan obat buvanest spinal ini, beredar melalui pesan singkat di kalangan dokter ahli anestesi.
"Jadi ada dua penderita meninggal dalam waktu bersamaan di RS, ini menarik media massa yang begitu kuatnya. Artinya ada sesuatu yang tidak tepat terjadi. Awalnya Persatuan Dokter Anestesi kita di-SMS, jangan pakai obat buvanest Kalbe Farma," katanya disela-sela peresmian Asosiasi Klinik Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI), Cibubur, Depok, Minggu, 22 Februari 2015.
Arief menjelaskan, efek samping obat tersebut tak sesuai dengan obat itu sendiri. Menurutnya, pesan singkat yang beredar, efek samping obat bercokol di saraf pusat hingga terjadi kerusakan dan kejang.
"Banyak SMS ternyata ada banyak versi, bahwa obat itu berlabel asam tranexamic bercokol ke saraf pusat, terjadi kerusakan, obat masuk ke situ, masuk ICU, meninggal. Kalau versi itu benar, berarti dokter anestesi enggak salah. Obatnya benar, labelnya dari perusahaan seperti itu," kata Pengawas Asosiasi Klinik BSMI ini.
Saat ini ia membenarkan bahwa setiap klinik mendapatkan instruksi dilarang memakai obat tersebut. Saat ini obat tersebut juga sudah ditarik oleh pemerintah.
"Sudah ada instruksi tidak boleh pakai lagi, obat-obat anestesi lain yang generik sih boleh - boleh saja tetap dipakai," ungkapnya.
(Renny Sundayani)