Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Fakta dan Mitos Seputar Tembakau yang Wajib Anda Ketahui

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Jum'at, 01 Juni 2018 |16:00 WIB
4 Fakta dan Mitos Seputar Tembakau yang Wajib Anda Ketahui
Hari Tembakau Sedunia (Foto: The Independent)
A
A
A

SEJAK tahun 2012 lalu, jumlah perokok aktif di Indonesia terus bertambah secara signifikan. Saat ini jumlahnya diprediksi telah mencapai 60 juta orang. Mirisnya, tren merokok juga telah merambah pada kalangan anak-anak dari usia 10 tahun-14 tahun.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh IAKMI, tingkat merokok di kalangan-anak terus meningkat dengan cepat, hingga membuat Indonesia menjadi negara dengan proposi perokok muda terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya merokok menjadi salah satu faktor yang membuat kebiasaan tersebut sulit dihilangkan. Ditambah lagi mitos-mitos seputar tembakau atau rokok yang sudah berkembang luas di berbagai lapisan masyarakat.

Nah, dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2018, Okezone berhasil merangkum 4 fakta dan mitos seputar tembakau yang wajib Anda ketahui, sebagaimana disarikan dari data resmi yang dikeluarkan oleh TCSC-IAKMI, Jumat (1/6/2018).

Rokok adalah benda modern

Menurut mitos, rokok yang berupa gulungan daun atau kertas berisi tembakau yang dibakar dan iisap adalah karya manusia modern. Namun faktanya, menghisap rokok yang dibuat dari tembakau lalu dibungkus kulit jagung atau daun tembakau itu sendiri (seperti cerutu) sudah menjadi kebiasaan penduduk asli Peru sejak 5000 tahun S.M. Mereka melakukan sebagaian bagian dari ritual untuk berkomunikasi dengan dewa atau arwah nenek moyang.

Orang-orang Eropa yang datang ke Peru di abad ke-15 biasanya akan disambut dengan upacara mengisap cerutu atau pipa, kemudian ketagihan, lalu membawa tanaman tembakau sehingga kebiasaan merokok itu tersebuat di negara mereka. Nama tembakau sendiri diduga berasal dari bahasa penduduk asli Kuba yaitu, “dattukupa” yang berarti mengisap asap. Oleh orang Eropa, kebiasaan merokok kemudian disebar luaskan hingga kawasan Afrika dan Asia.

Rokok meningkatkan konsentrasi

Menurut mitos, merokok menimbulkan ketenangan pikiran dan meningkatkan daya konsentrasi. Faktanya, bagi perokok pemula, merokok dapat memicu rasa mual, pusing, batuk-batuk, dan mulut terasa tidak enak. Pada saat yang sama, nikotin telah mulai menyerang otaknya dan secara berangsung akan mengulangi kegiatan tersebut dan berujung pada kecanduan.

Pada tahap kecanduan inilah seseorang akan merasa gelisah, berkeringat, dan mulut terasa tidak enak kalau belum merokok. Sebetulnya mirip dengan orang yang kecanduan narkoba. Mereka akan merasa gelisah, mengeluarkan keringat dingin, perut merasa sakit, hingga ia mendapatkan narkoba. Jadi merokok memang bisa menenangkan pada orang yang sudah kecanduan, tetapi ketenangan itu adalah ketenangan yang semu.

Asap mobil lebih berbahaya daripada asap rokok

Secara umum hal itu ada benarnya, namun perlu diingat bahwa asap knalpot mobil segera menyebar di udara terbuka sementara asap rokok sepenuhnya masuk ke paru-paru, baik paru-paru si perokok maupung orang di sekitarnya. Selain itu, asap rokok juga diklaim mengandung 4000 bahan kimia berbahaya yang tidak terdapat pada asap mobil, 69 diantaranya masuk dalam kategori karsinogenik. Ditambah lagi, asap rokok menganduk zat-zat racun lainnya yang tidak ada pada asap mobil seperti nikotin, arsen, ammonia, dsb.

Indonesia adalah negara pengekspor tembakau

Negara kita memang mengekspor tembakau terutama tembakau untuk cerutu, tetapi untuk kebutuhan pembuatan rokok dalam negeri, Indonesia juga mengimpor tembakau. Berdasarkan data Ditjen Pertanian tahun 2005, nilai impor tembakau kita lebih besar daripada ekpornya sehingga Indonesia merugi hingga 35 juta dollar per tahun. Indonesia diketahui mengimpor tembakau dari berbagai negara seperti Amerika, China, dan bahkan Singapura yang notabennya tidak memiliki lahan pertanian tembakau.

(Renny Sundayani)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement